Tampilkan postingan dengan label #Bebas Aksara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Bebas Aksara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2018

Oh, Pendidikan Nonformal!


Oh, Pendidikan Nonformal!

“Alhamdulillah”,ungkapan inilah yang diucapkan oleh Fahri dan Catur ketika sudah sampai di Kabupaten terdekat dengan perbatasan Papua New Guini, seru Fahri “ini namanya Kabupaten Keerom.” Pagi yang diiringi gerimis hujan tidak menyurutkan niat dalam melaksanakan tugas untuk melakukan studi pendahuluan. Salah satu tahapan untuk mengembangkan model dibidang pendidikan keaksaraan dalam melayani masyarakat buta aksara. Terkadang dalam benak Fahri berfikir, masih ada juga masyarakat yang pada jaman melinial berlalu masih belum mengenal membaca menulis dan berhitung. Menarik hati, disatu sisi kasihan untuk melihat perkembangan jaman , bagaikan orang yang ingin mempelajari bahasa asing, sangat jarang sekali kalau ditemui orang yang buta aksara menginginkan keadaan tersebut berlanjut. Cerita fahri “Saat mengenal bahasa asing untuk menghafalkan kata perkata susah, untuk mengucapkan apalagi malu sudah datang maka sulit kita mampu menguasai dengan kilat bahasa asing.” Sahut Catur “Begitulah yang dirasakan oleh mereka warga masyarakat yang buta aksara dijaman now.”
Sesampainya di sanggar kegiatan belajar disingkat SKB ini merupakan satuan pendidikan nonformal yang masih dinaungan pemerintah daerah setingkat kabupaten maupun kota. “Miris, melihat kantor yang melayani pendidikan nonformal berbeda sangat dengan kantor pendidikan formal diseberang jalan.” kata Fahri ketus. “Memang kalau diakui adanya SKB yang tadinya merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah sekarang telah menjadi satuan pendidikan yang mana telah fakum selama satu tahun terlihat sangat memprihatinkan. Ruangan yang berbentuk rumah merupakan rumah sewa yang disulap untuk kantor sementara SKB, padahal jika ditilik masa sebelum menjadi satuan pendidikan memiliki kantor yang jauh lebih pantas berada disisi tempat lain berjarak berapa blok dari kantor yang sekarang. Selama fakum untuk merubah dari UPTD menjadi Satdik ini telah ditempati kantor berikut sarana prasarana yang didapatkan dari bantuan pemerintah pusat dan tentunya pemerintah daerah oleh bidang kerja lain.” Begitulah penjelasan detail Catur.
Diskusi untuk menerima masukan dari berbagai pihak dimulai pukul sebelas waktu Indonesia timur, pihak yang telibat terdiri pegawai dinas pendidikan kabupaten, pegawai SKB dan ketua lembaga satuan pendidikan non formal terdekat. Setelah dibuka oleh kepala SKB untuk melaksanakan diskusi mulai dengan hal ringan berbagai potensi yang ada untuk mengembangakan pendidikan nonformal di wilayah Kab Keerom terkhusus untuk pendidikan keaksaraan. Heryawan mengungkapkan “diwilayah SKB Kab Keerom telah melayani dulunya berbagai tempat yang rata-rata eks trans (Transmigran yang telah lama mendiami Kabupaten Keerom) masih terdapat warga masyarakat yang dalam satu keluarga terdiri dari orangtua yang buta aksara, sedangkan untuk mengajarkan mereka malu datang ke satuan pendidikan, ada dari mereka belajar dengan keluarga sendiri. Bahkan ada juga warga masyarakat yang belajar kepada anaknya yang telah belajar di pendidikan formal.” Ditimpali oleh Siti Fatonah “Memang menjadi kekurangan adalah adanya test atau penilaian yang masih kurang untuk warga masyarakat yang belajar sendiri, tentu hal ini belum bisa dilakukan penilaian terkendalan adanya tutor kurang dan tidak mampu menjangkau ke rumah-rumah. Padahal kalau didata maka akan terlihat masih banyak warga masyarakat yang buta aksara ketika datang melakukan transmigrasi dijaman dahulu dan usianya pastinya empat puluh tahun keatas. Jika memang belum terlayani kasihan akan merugi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya untuk berjual beli mereka belum tentu bisa membaca pesan yang disampaikan melalui tulisan maupun berita yang menjadi pengumuman.”

Senin, 31 Juli 2017

Selasa, 13 September 2016

Memaksimalkan Potensi Anak Sejak Dini

Oleh : Faisal Riza Hasbullah, S.Pd I


Orangtua menjadi contoh yang mudah sekali ditiru oleh anak jika memiliki ekspresi akan diikuti anaknya. Menjadi contoh kecil ketika anak melihat orangtua takut akan sesuatu kejadian atau pada benda, dengan begitu anak melihat ekspresi orangtuanya seraya menangis dan ingin dipeluk oleh orangtua. Begitu juga ketika anak sering melihat orangtua marah, hal ini mudah dicontoh oleh anak untuk memarahi orang lain atau temannya sebaya ketika mendapati permasalahan.  Bagian yang paling suka diikuti oleh anak diantaranya :
a. Bahasa yang digunakan oleh orangtua
b. Perilaku keetika terjadi permasalahan / konflik
c. Kebiasaan yang terbangun dari mulai awal hari sampai jam tidur
d. Kesukaan yang dimiliki orangtua

Maka perlunya orangtua menjadi pengasuh pertama dan utama senantiasa menjaga diri untuk memberikan contoh yang baik serta selalu belajar kepada siapa saja utamanya pendidik di PAUD untuk mensinergikan kebutuhan di PAUD dan di rumah. Tidak sedikit orangtua yang menyadari akan pentingnya persiapan untuk menjadi ornagtua. Mereka lebih memilih menitipkan anaknya ketika bekerja kepada oranglain yang belum tentu juga menyadari akan pentingnya pendidikan anak usia dini.

Usia 0-8 Tahun merupakan prioritas pendidikan dan pengasuhan yang tidak akan bisa terulang kembali. Kesadaran orangtua mulai muncul supaya usia anak usia dini tidak tergadai dengan memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Upaya yang benar untuk meningkatkan kemampuan anak usia dini sesuai dengan perkembangan usia didasarkan pada faktor Nilai Agama dan Moral, Sosial emosional, Fisik Motorik, Bahasa, Kognitif, dan Seni.

Usia anak yang tidak bisa kembali menjadi upaya orangtua memberikan ilmu pengetahuan sikap dasar pada anak seoptimal mungkin sesuai kebutuhan anak. Ketika anak mempelajari hal baru pastilah orangtua yang menjadi sasaran pertama berbagai hal pertanyaan pada anak akan terungkap. Selain itu pengamatan anak lebih rinci yang membuat pengetahuan yang lalu menjadi bagian informasi untuk mengkaitkan dengan pengetahuan baru.

Sumber belajar pada pembelajaran anak usia dini didapatkan dari berbagai benda dan peralatan yang dekat dengan anak. Kendala bisa dihadapi orangtua dengan adanya pendampingan yang dilakukan oleh kepala maupun pendidik pada PAUD.
Keberlanjutan program kebersamaan orangtua dengan anak untuk mengoptimalkan potensi anak sejak dini perlu dilakukan secara terus menerus, agar berhasil menanamkan sikap pengetahuan dan keterampilan menggunakan bahan dan alat yang ada didalam rumah.

Kebersamaan orangtua dengan anak menjadi prioritas agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya sebagai anak manusia yang perlu bimbingan dan arahan dari orangtuanya. Memang waktu dirasakan sangat mahal untuk bisa bersama anak, apalagi ketika pekerjaan menjadi utama dalam kehidupan sehari-hari.

Senin, 08 Agustus 2016

Penerapan Rumah Kreatif Bagi Anak Usia Dini

Oleh : Faisal Riza Hasbullah

Apa itu penerapan rumah kreatif bagi anak usia dini?
Langkah pelaksanaan hasil dari orangtua membangun pola fikir untuk memberikan pengetahuan kepada anak usia dini sesuai tingkat perkembangan anak usia dini sehingga mampu menciptakan pembelajaran secara kreatif di rumah dengan pendampingan dari Lembaga PAUD, yaitu dilakukan oleh pendidik PAUD sehingga mampu melaksanakan penilaian kepada anak usia dini.
Dimana penerapan rumah kreatif bagi anak usia dini berada?
Penerapan rumah kreatif bagi anak usia dini diterapkannya pembelajaran dengan bermain untuk anak usia dini yang berada didalam rumahnya dengan menggunakan media peralatan rumah, tanpa memasukkan barang-barang dari luar rumah yang dilakukan oleh orangtua dengan pendampingan dari guru PAUD.
Kapan penerapan rumah kreatif dilakukan bagi anak usia dini?
Penerapan rumah kreatif bagi anak usia dini dilakukan disaat orangtua bersama dengan anak usia dini, dengan batasan waktu minimal 60 menit per hari untuk mendapatkan hasil yang diinginkan anak diajak untuk bermain sesuai dengan area-area yang ada didalam rumah.
Bagaimana penerapan rumah kreatif bagi anak usia dini?
Penerapan rumah kreatif bagi anak usia dini tergantung dari pelaksanaan, penilaian dan pendampingan yang dilakukan oleh pendidik PAUD. Ketika berada didalam rumah anak usia dini diajak untuk mengenali permainan yang nantinya menarahkannya pada peningakatan kompetensi anak sesuai dengan usianya. Kegiatan main yang dilakukan oleh orangtua bisa bersumber dari kegiatan sehari-hari atau juga didapatkan dari pendidik PAUD dalam rangka meneruskan pendidikan yang ada dilembaga PAUD.
Siapa yang melaksanakan penerapan rumah kreatif bagi anak usia dini?
Penerapan rumah kreatif bagi anak usia dini ini adalah orangtua yang tergerak untuk ingin meningkatkan perkembangan anaknya sesuai batasan usia dengan tujuan meningkat  perkembangan anaknya. Penerapanya dilaksanakan orangtua bisa mendapatkan sosialisasi maupun dilakukan pendampingan oleh pendidik PAUD.
Bagaimana bentuk penilaian penerapan rumah kreatif bagi anak usia dini?
Penilaian dilakukan dengan sederhana oleh orangtua dari anak usia dini dengan memperhatikan perkembangan anaknya sesuai tingkat usia perkembangan.
Bagaimana bentuk pendampingan implementasi rumah kreatif bagi anak usia dini?
Pendampingan yang bisa dilakukan oleh pendidik PAUD kepada orangtua anak usia dini dengan melaksanakan sosialisasi, atau pendampingan dengan alat komunikasi, atau pendampingan dengan orangtua datang ke lembaga PAUD berkonsultasi, pendampingan dengan pendidik PAUD yang datang ke rumah orangtua.
Langkah-langkah pembelajaran :
a.   Persiapan
1)   Mengidentifikasi kemampuan anak, orangtua melakukan pengamatan mengenai perkembangan anaknya yang masih rendah, bisa didapatkan juga dari hasil pengamatan pendidik pada saat pembelajaran di PAUD.
2)   menentukan kemampuan anak yang akan dicapai, memilih salah satu kemampuan anak yang masih rendah untuk diupayakan dalam pembelajaran rumah kreatif.
3)   menentukan area, media/bahan yang akan digunakan, orangtua memutuskan area yang digunakan sebagai tempat untuk pembelajaran sehingga dapat menyesuaikan media/bahan untuk permainan bersama antara orangtua dengan anak.
4)   menentukan strategi pembelajaran, orangtua dapat menentukan cara bermain dengan anak yang efektif menggunakan media/bahan yang sesuai.
b.   Pelaksanaan Pembelajaran
1)   Pendahuluan
Pada tahap ini orangtua menyampaikan pada anak bahwa kegiatan bermain akan dimulai, dan meminta anak untuk meninggalkan aktivitasnya yang lain. Orangtua juga menyampaikan perihal yang akan diketahui anak dalam permainan.
2)   Kegiatan inti
Yaitu kegiatan bermain yang berlangsung di rumah sesuai dengan rencana yang ditentukan oleh orangtua dan anak. 
3)   Kegiatan penutup
Tahapan penutup merupakan tahapan pemberian motivasi pada anak.
Orangtua tidak perlu mengikuti langkah-langkah tersebut, tetapi disesuaikan dengan kondisi, karena pembelajaran dengan cara bermain sambil belajar dapat berlangsung secara spontan tanpa melalui persiapan atau perencanaan. Dengan kata lain, penerapan rumah kreatif adalah menggunakan prinsip bermain sambil belajar, sehingga setiap saat orangtua secaraspontan dapat mengikuti aktivitas permainan anak. Misalnya ketika anak sedang bernyanyi, atau sedang memainkan peralatan rumah, dan saat itulah orangtua dapat langsung melaksanakan pembelajaran  rumah kreatif. Jadi, pelaksanaan pembelajaran rumah kreatif dapat dilakukan dengan tahapan-tahapan tertentu, dan dapat juga dilakukan secara spontan.  

Jumat, 24 Juni 2016

Kunjungan ke Pusat Pengembangan dan Pelatihan PAUDNI di DKI Jakarta

P3PAUDNI merupakan lembaga penelitian dan pelatihan yang berada dilingkungan dinas pendidikan provinsi DKI Jakarta. Di pimpin oleh seorang kepala P3PAUDNI eselon III, dibantu oleh bagian tata usaha eselon IV. Didalam lembaga memiliki dua satuan yaitu satuan pelaksanaan pelatihan, dan satuan pelaksanaan pengembangan yang juga memiliki jabatan fungsional pamong belajar.
Didalam jabatan fungsional pada P3 PAUDNI tidak memiliki kelompok kerja yang diterapkan adalah senioritas bagi pegawai yang mampu menangani suatu kegiatan baik itu penelitian atau juga pelatihan maka diajak untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Bisa dipastikan akan terjadi persaingan antara pamong belajar yang senior dengan pamong belajar yang junior untuk bisa memiliki kemampuan agar dilibatkan pada setiap kegiatan.
Mekanisme kerja tim pengembang yang ada di P3PAUDNI merupakan pola antara senior dan junior dengan jumlah tim pengembang yaitu 30 pamong belajar yang bisa tersebar didalam pengembangan dan juga pelatihan. Tidak terdapat pembagian kelompok kerja sehingga bagi pamong belajar yang mampu mengikuti kegiatan pengembangan juga pelatihan secara kemampuan bisa maka akan diikutkan pada setiap kegiatan. Pola dari pengembangan dengan 10 tahapan, mulai dari merencanakan pengembangan lalu mengkonsep desain pengembangan, lalu diujicobakan terbatas, sehingga didapatkan revisi dan perbaikan, maka dibuat naskah yang akan dilaksanakan untuk ujicoba luas. Sehingga hasil akhirnya adalah naskah akhir yang mampu dilaksanakan dilembaga yang ditunjuk.
Kualifikasi tim pengembang merupakan pemong belajar yang secara kemampuan dan kesempatan dalam mengikuti kegiatan mampu maka akan diikutkan. Dengan kata lain sebagai pamong belajar yang senior maka memiliki pengalaman dan pengetahuan yang nantinya dibutuhkan pada setiap kegiatan baik dalam pelatihan maupun pengembangan model. Tidak selalu selesai dalam satu tahun dari pengembangan model untuk menjadi naskah hasil. Karena bisa dilanjutkan pada tahun berikutnya dengan arah pengembangan model yang berbeda saja.

Pengembangan model yang dilaksanakan di P3PAUDNI belum bisa dirasakan lembaga secara luas di DKI Jakarta, sebab dalam proses penggandaan hanya berjumlah sesuai lokasi pengembangan. Padahal jika lokasinya hanya mewakili setiap bagian dari kota madya Jakarta hanya terwakili 1 lembaga PAUD hal itu menjadi hambatan dalam pengembangan sehingga kurang terimplementasi pada setiap lembaga PAUDNI di Jakarta.

Senin, 21 Maret 2016

Perlindungan Anak Usia Dini Dari Kekerasan Aksara


Oleh : Faisal Riza Hasbullah
Berkecimpung didunia kerja bagi orangtua ada kalanya kurang memperhatikan kondisi anak. Baik ayah yang memang memiliki tugas menjadi tulang punggung keluarga. Maupun sang ibu yang berupaya membantu perekonomian keluarga lalu memilih dunia kerja. Semua hal itu bukanlah alasan untuk jauh dengan anak, hanya menitipkan pendidikan dan perlindungan kepada lembaga PAUD maupun Pengasuh. Meskipun pengasuh mampu dipercaya serta mengerjakan kewajiban dalam mengasuh anak belum tentu anak mendapatkan kasih sayang sama seperti kasih sayang dari kedua orangtuanya.

Ibu menjadi sandaran utama dalam pembentukan dan tumbuh kembang anak usia dini menjadi perlu meluangkan waktu yang lebih. Sebagai ibu mengawasi perkembangan anaknya menjadi hal yang perlu diperhatikan secara seksama. Meskipun bekerja, usahakan tempat kerja jangan sampai berjauhan dengan tempat anak dititipkan maupun ditinggal dengan pengasuh. Perlunya juga peran ayah yang menjadi sosok yang melindungi didalam keluarga perlu anak merasakan kehangatan perlindungan ayah. Meski terlihat ibu dekat dengan anak tetapi ayahnya jauh hal itu membuat menurunya percaya diri anak meski dia masih usia dini pasti merasakan hal yang sangat besar karena ketidak hadiran ayahnya.

Selasa, 15 Maret 2016

Pendidikan Rumah Kreatif Bagi Anak Usia Dini

Rumah Kreatif merupakan proses pembelajaran yang ada di dalam rumah baik dilakukan oleh orangtua atau pendidik dengan anak usia dini dengan memanfaatkan area-area yang ada didalam setiap ruang didalam rumah tanpa memasukkan benda atau barang yang dari luar rumah. Pemanfaatan area yang ada tanpa ada perubahan maupun penambahan asesoris pada benda yang ada disetiap area yang ada didalam rumah. Diantara area yang ada, yang biasa ditemui diantaranya ruang keluarga, ruang tamu, ruang dapur, kamar mandi, dan kamar tidur bagi orangtua yang memiliki rumah dengan kondisi lengkap. Jika ada orangtua yang memiliki kondisi rumah dengan area yang seadanya bisa juga dilakukan. Rumah kreatif perlu adanya lembaga yang bergerak dalam partisipasi meningkatkan mutu kualitas pendidikan anak usia dini. Akan tetapi jika kegiatan rumah kreatif ini dilakukan secara individual akan terasa sangat sulit untuk keberlangsungannya. Orangtua yang selama ini acuh kepada pendidikan anak usia dini di lingkungan rumah akan merasa penting dalam peranan pembentukan dan tumbuh kembang kompetensi anak usia dini.
Bermunculan sikap dari orangtua yang mampu memberikan pendidikan kepada anaknya dengan mendaftarkan dilembaga PAUD yang telah menjamur, diantara sikap yang muncul adanya orangtua yang ketika diminta menjelaskan capaian anak usia dininya maka yang penting anaknya senang dan aman di lembaga PAUD. Nanti akan muncul orangtua yang memiliki orientasi anak usia dini yang terpenting bisa membaca dan menulis. Bisa dipastikan orangtua juga akan mempraktikan persepsi yang tumbuh pada dirinya untuk mendidik dan mengembangkan kemampuan membaca menulis pada anak usia dini sehingga tidak tertinggal dengan anak-anak lain.
Sebagian orangtua memiliki keprihatinan, karena anak usia dini yang sebagian  mengikuti pembelajaran di lembaga PAUD memaksanakan. Pemaksaan yang terjadi biasanya untuk menghafal, menulis maupun menghitung yang tidak sesuai dengan masa perkembangannya. Kejadian yang menjadi dampak adanya pemaksaan anak biasa mengungkapkan dengan keengganan untuk berangkat ke lembaga PAUD. Seakan anak merasa tertekan jika dipaksa untuk bisa di luar ranah kemampuan anak.
Pendidikan untuk anak usia dini memang belum ditetapkan secara wajib oleh pemerintah yang mengharuskan program PAUD ditempuh setiap anak usia dini. Tetapi sudah berkembang banyak lembaga PAUD berdiri untuk memberikan layanan dalam berbagai program kelompok bermain, tempat penitipan anak, taman kanak-kanak, raudatul atfal dan paud sejenis. Kebijakan pemerintah mengenai kewajiban anak usia dini mendapatkan pelayanan pendidikan belum ada peraturan yang mengikatnya. Sehingga peluang yang luas mengenai pelayanan PAUD belum bisa diakses secara maksimal oleh masyarakat. Jika muncul masalah yang berkaitan dengan anak usia dini barulah pemerintah sibuk dalam menjaga nama pemerintah sebagai pengayom masyarakat. Sehingga terkesan pemerintah tidak dapat memeratakan pendidikan dan menjamin keberlangsungan pendidikan anak usia dini.