Tampilkan postingan dengan label paud layanan untuk semua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paud layanan untuk semua. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2016

Sosialisasi PAUD ke Masyarakat Kampung Baru Abepura Kota Jayapura Papua

Oleh : Faisal Riza Hasbullah, S.Pd I
Pendirian PAUD yang dilaksanakan sejak 6 bulan lalu dengan nama PAUD KASIH BUNDA menjadi perhatian tersendiri oleh BP PAUD Dan DIKMAS Papua yang masih masuk wilayah kerja. Hal ini tidak lain merupakan suatu apreasiasi kepada masyarakat di Kampung Baru RT 03 RW 03 Abepura Jayapura Papua yang telah sukarela mendirikan PAUD. Mayarakat sekitar yang menginginkan adanya PAUD dikampungnya membuat sebagian besar masyarakat mendirikan lembaga tersebut dengan harapan anak usia dini dilayani pendidikannya tanpa jauh-jauh dari tempat tinggalnya.

Memang menjadi keprihatinan ketika pihak kampung mengandalkan sumber daya yang ada maka tempat kosong yang dijadikan tempat berkumpul anak usia dini dalam menimba ilmu bersama dengan ibu guru yang bergani gantian sesuai dengan tingkat keluangan orangtua yang sukarela mengajar. Jika kondisi hujan maka terhentilah kegiatan pembelajaran yang menjadi tempat berteduh sangat minim dari penerangan dan mudah bocor ketika itu.
Sebagai kepala PAUD memberikan prakata pembukaan dan dilanjutkan oleh L M Arifin menjelaskan mengenai pentingnya lembaga PAUD yang disokong oleh keberadaan masyarakat sekitar, utamanya kepala kampung atau sesepuh yang bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk memberikan pendidikan bagi anak usia dini. Selain itu dengan adanya dukungan masyarakat saling membahu membangun PAUD dapat menciptakan rasa memiliki dan menjaga keberlangsungannya. Pendidikan Anak mampu menjaga kemampuan berbahasa yang nantinya jika tidak diatur akan mencontoh dari oranglain bahkan orang yang dekat dengan anak tersebut mengatakan hal kasar dan jorok, maka perlu adanya pengasuhan tepat dalam perkembangan anak.


Di kesempatan tersebut juga hadir Faisal Riza dari pamong belajar PAUD mengungkapkan pentingnya pendidikan untuk anak usia dini minimal 1 tahun yang mana dengan pendidikan layak anak bisa mengisi masa emas anak di usia 4 sampai dengan 6 tahun sebelum mengikuti pendidikan dasar. Anak yang telah mendapatkan pendidikan layak nantinya akan meningkatkan kemampuan otaknya bukan hanya untuk baca tulis dan berhitung tetapi mampu menerima semua materi pembelajaran yang diajarkannya nanti.

Pemateri yang berikutnya Ibu Siti Nur Sholihah sebagai pamong belajar DIKKEL memberikan gambaran mengenai peran serta orangtua yang bisa dilaksanakan kedalam 6 cara bersama PAUD. Selain itu juga dijelaskan pembiasaan di keluarga, diantaranya  mengkondisikan anak ketika pulang dari sekolah maupun PAUD sehingga anak bisa menjadi nyaman dan aman didalam keluarga, sampai dengan kegiatan bermain bersama antara orangtua dengan anak untuk menjalin hubungan yang harmonis. Menjadi penekanan adalah orangtua perlu mempersiapkan diri untuk senantiasa menjadi pendidik dan pengasuh pertama dan utama untuk generasi penerus bangsa ini.


Kegiatan penutupan dilaksanakan dengan memberikan secara simbolis DIKKEL Kit kepada Sesepuh adat dan juga orangtua yang hadir untuk dapat memperlajari semua materi yang ada dalam buku dan juga poster yang dibagikan. Apresiasi yang sangat tinggi untuk semua masyarakat yang rela hadir untuk memikirkan kemajuan PAUD di kampung Baru Distrik Abepura Kota Jayapura. Meski berumur muda dan berada di wilayah Kota PAUD Kasih Bunda perlu dukungan dari berbagai pihak yang berkaitan dengan PAUD.

Kamis, 09 Juni 2016

Pengarus utamaan gender sejak usia dini menjadi dorongan kemajuan akses PAUD di Papua

Oleh : Faisal Riza Hasbullah
UNESCO Prize for Girl’s and Women’s Education diterima di tahun 2016 oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia merupakan momentum untuk kebangkitan kesejahteraan dan perlindungan anak perempuan untuk mendapatkan hak yang layak. Penghargaan yang bergengsi tersebut perlu menjadi kesadaran bersama semakin pentingnya anak-anak yang mendapatkan pembelajaran yang tepat sesuai usianya. Jangan sampai perkembangan anak tidak sesuai dengan pendidikan yang didapatkan dilembaga pendidikan anak usia dini.
Indonesia di tahun yang sama memiliki banyak sekali kasus mengerikan tentang pengarus utamaan gender. Penindasan terhadap perempuan dalam berpendidikan dan berinteraksi dipublik masih terancam. Berbagai bentuk kekerasan fisik psikologis, hingga kearah tindak asusila mewarnai kebengisan diberbagai wilayah. Masih teringat jelas bagaimana anak perempuan selesai belajar disekolah diperjalanan pulang diperkosa dan dibunuh secara sadis oleh 15 orang pemabuk. Hingga dipelosok negeri balita usia 2 tahun dilecehkan sampai mati. Ini bentuk bagaimana demoralisasi penurunan sikap santun berganti menjadi sifat hewan perlu penanganan khusus untuk menghentikan berbagai kasus yang telah ada, sehingga tidak adalagi kasus berulang atau malah muncul kasus baru lebih kejam. Sasaran tertinggi yaitu perempuan yang masih dianggap menjadi makhluk lemah.
Penghargaan yang didapatkan diarahkan untuk lebih baik lagi pelayanan pendidikan bagi anak perempuan sejak usia dini perlu dijaga keberadaan dan pendidikannya. Di Papua di wilayah timur Indonesia sudah pasti akan banyaknya kesenjangan pendidikan yang masih terjadi karena keterjangkauan dari akses pendidikan yang susah, maupun karena kesadaran dari orangtua dalam memberikan pendidikan dirumah atau bahkan anak-anaknya didaftarkan PAUD masuk kelembaga PAUD. Jika klita melihat secara langsung bagaimana anak perempuan sebagian besar masih diajak oleh ibunya untuk sekedar membantu bercocok tanam maupun berjualan sehingga pendidikan terbengkalai.
Bahkan untuk anak laki-laki mereka para orangtua jarang untuk mendaftarkan anaknya untuk mendapat pendidikan, sehingga ditemui anak laki-laki yang banyak hanya ikut-ikutan anak lain sekedar bermain di lembaga PAUD. Maka ketika diabsen barulah ketahuan anak yang baru semakin banyak tanpa adanya komunikasi dari orangtua untuk mendahului mendaftarkan anak-anaknya. Maka pelrunya pengarus utamaan gender di Papua perlu digiatkan mulai dengan sosialisasi, maupun dalam bentuk lembaga pendidikan menjemput bola mendatangi pada rumah-rumah warga yang memiliki anak usia dini.

Dengan adanya kesadaran pendidikan untuk kesetaraan gender sejak usia dini maka meningkatkan peran bermitra baik dengan BKKBN, Himpaudi, IGTK, BP PAUD DAN DIKMAS dan instansi lain dalam melayani pendidikan anak udia dini. Memang akan menjadi susah jika masing-masing lembaga instansi yang ada berjalan sendiri tanpa ada kerjasama. Tetapi jika telah kuat maka nantinya untuk mendata dan melayani pendidikan untuk anak usia dini bisa merata dan berkualitas sesuai dengan tantangan jaman.